16 Juni, 2010

-->


Beginilah firman Tuhan: Cegahlah suaramu dari menangis, dan matamu dari mencucurkan air mata, sebab untuk jerih payahmu ada ganjaran, demikianlah firman Tuhan; mereka akan kembali dari negeri musuh. Masih ada harapan untuk hari depanmu, demikianlah firman TUHAN.
(Yeremia 31: 16-17)
Kadang-kadang, tidak peduli betapapun kerasnya kita berdoa atau berapa lama kita berdiri dalam iman, segala sesuatu tidak berubah seperti yang kita harapkan. Beberapa orang sedang berdoa supaya pernikahan mereka dipulihkan; yang lainnya sedang meminta Tuhan memulihkan suatu bisnis atau keretakan di antara para rekan kerja. Saya mendorong orang untuk bertahan, terus berdoa, dan percaya hal-hal baik akan terjadi. Tetapi kita juga harus mengerti bahwa Tuhan tidak akan mengubah kemauan orang lain. Ia telah memberikan kepada setiap manusia kehendak bebas untuk memilih jalan mana  yang ia tuju, entah itu benar atau salah.
Anda mungkin patah hati karena suatu hubungan yang gagal atau sebuah bisnis yang bangkrut, tetapi Anda tidak perlu patah hati. Jangan biarkan rasa sakit dan penderitaan itu tetap ada bertahun-tahun. Jangan biarkan penolakan membusuk dalam diri Anda. Tuhan mempunyai sesuatu yang baru bagi Anda.
Saat Tuhan mengizinkan satu pintu tertutup, Ia akan membuka pintu lain bagi Anda, dengan mengungkapkan sesuatu yang lebih besar dan lebih baik. Alkitab berkata bahwa Tuhan akan mengambil yang jahat yang musuh datangkan ke dalam kehidupan kita, dan jika mau menjaga sikap yang baik, Ia akan mengubahnya dan menggunakannya untuk kebaikan kita(lihat Kejadian 50:20). Ia ingin mengambil kekecewaan itu dan mengubahnya menjadi sesuatu yang baru. Tetapi pahamilah, entah Anda akan mengalami hal-hal bail itu di masa depan Anda atau tidak, sangat bergantung pada kerelaan Anda untuk melepaskan masa lalu.
Jangan pernah menaruh sebuah tanda tanya di tempat Tuhan menaruh sebuah tanda titik. Hindarilah kecenderungan untuk tinggal dalam apa yang Anda bisa saja lakukan, karier mana yang seharusnya Anda kejar, atau orang mana yang Anda harap bisa Anda nikahi. Berhentilah hidup dalam suatu bingkai negatif, dengan kemarahan mendidih karena sesuatu yang telah lewat dan selesai. Pusatkanlah perhatian pada apa yang anda dapat ubah daripada apa yang Anda tidak dapat ubah. Guncangkanlah diri Anda sendiri keluar dari mentalitas “seharusnya, bisa saja, mungkin saja”, dan jangan biarkan penyesalan-penyesalan kemarin menghancurkan harapan-harapan dan impian-impian hari esok.
Anda tidak dapat melakukan apa pun tentang apa yang sudah lenyap, tetapi Anda dapat melakukan banyak pada apa yang tersisa. Anda mungkin telah membuat beberapa pilihan buruk yang telah menyebabkan kehancuran hati dan penderitaan yang mengerikan. Mungkin Anda merasa bahwa anda telah gagal, bahwa kehidupan Anda berantakan dan tidak bisa dipulihkan. Anda mungkin merasa tidak layak untuk mendapatkan yang terbaik dari Tuhan, yakin bahwa Anda harus menerima yang biasa-biasa saja seumur hidup Anda karena keputusan-keputusan buruk yang Anda buat.
Lebih buruk lagi, mungkin Anda bukan orang yang telah membuat pilihan-pilihan buruk, tetapi keputusan-keputusan bodoh orang lain menyebabkan Anda mengalami sakit hati dan penderitaan yang sangat menyakitkan. Walapun demikian, Anda harus berhenti tinggal di dalamnya. Lepaskanlah masa lalu itu. Ampunilah orang yang telah memberikan Anda masalah dan mulailah yang baru tepat di mana Anda berada hari ini. Jika Anda terus-menerus tinggal dalam kekecewaan-kekecewaan itu Anda akan menghalangi berkat-berkat Tuhan dalam kehidupan Anda hari ini. Tindakan tersebut tidak berharga. Lebih dari itu, Tuhan menginginkan pemulihan Anda lebih dari apa yang Anda inginkan!
Nabi Samuel mengalami kekecewaan mengerikan dalam hubungannya dengan raja pertama Israel, seorang bernama Saul. Sebagai seorang pemuda, Saul bersifat rendah hati dan pemalu. Kemudian, dengan pengarahan Tuhan, Samuel memilih Saul dari kerumunan orang banyak dan menyatakannya sebagai raja Israel. Samuel melakukan yang terbaik untuk menolong Saul menjadi seorang raja yang menyenangkan hati Tuhan.
Sayangnya, Saul menolak hidup dalam kepatuhan kepada Tuhan, dan Tuhan akhirnya menolak dia sebagai raja. Bayangkanlah bagaimana perasaan Samuel. Mungkin Anda telah banyak menanamkan modal waktu, usaha, uang, emosi, dan tenaga dalam suatu hubungan; Anda melakukan yang terbaik untuk membuatnya berhasil. Tetapi entah mengapa, segala sesuatu keluar dari jalur, dan sekarang Anda merasa Anda seolah-olah telah dirampok.
Pasti begitulah perasaan Samuel. Hancur. Patah hati. Kecewa. Tetapi sementara Samuel sedang memulihkan luka hatinya, Tuhan bertanya kepadanya suatu pertanyaan yang penting : “Samuel, berapa lama lagi engkau berkabung karena Saul?” (1 Samuel 16:1). Mungkin Tuhan menanyakan kepada kita hal yang sama pada masa kini : “Berapa lama lagi engkau akan berkabung karena impian-impianmu yang hancur itu?” Itulah masalahnya dengan perkabungan yang berlebihan saat kita memusatkan perhatian pada kekecewaan-kekecewaan kita, kita menghentikan Tuhan mendatangkan berkat-berkat baru ke dalam kehidupan kita.
Tuhan melanjutkan berkata kepada Samuel, “Isilah tabung tandukmu dengan minyak dan pergilah. Aku mengutus engkau kepada Isai,…sebab di antara anak-anaknya telah Kupilih seorang raja bagi-Ku.” Dengan kata lain, Tuhan berkata “Samuel, jika engkau mau berhenti berkabung dan melanjutkan kehidupanmu Aku akan memperlihatkan kepadamu suatu permulaan baru yang lebih baik.”
Ya, Saul adalah pilihan pertama Tuhan, tetapi saat Saul tidak mau hidup dalam kepatuhan, Tuhan tidak berkata, “Yah, Samuel, Aku menyesal. Saul sudah gagal dan menghancurkan segalanya.” Tidak, Tuhan selalu dapat memunculkan rencana lain. Perhatikanlah apa yang dikatakan Tuhan kepada Samuel untuk dilakukannya : Isilah tabung tandukmu dengan minyak. Milikilah suatu sikap yang baru. Kenakanlah seulas senyuman di wajahmu. Dpaatkanlah kembali semangat dalam langkah-langkahmu dan pergilah.
Samuel bisa saja berkata, “Tuhan, aku tidak dapat melakukannya. Aku terlalu patah hati. Aku mencurahkan diriku begitu banyak dalam hubungan itu dan sekarang itu semua lenyap, terbuang.”
Tetapi jika Samuel tidak mau mempercayai Tuhan pada titik tersebut, ia mungkin kehilangan raja Daud, salah seorang raja terbesar dalam alkitab. Demikian juga, jika kita bergelimang dalam kekecewaan-kekecewaan kita, kita menanggung risiko kehilangan hal-hal baru yang Tuhan ingin lakukan dalam kehidupan kita. Inilah saatnya untuk bangun dan melanjutkan kehidupan. Tuhan mempunyai rencana lain bagi Anda. Dan rencana itu lebih baik dibanding apa yang Anda dapat bayangkan!
- JOEL OSTEEN -

0 komentar :

Poskan Komentar