22 Maret, 2013



Bacaan: Hosea 1:1-12, 3:1-5

Pergilah, kawinilah seorang perempuan sundal ...- Hosea 1:2



Begitu sering kita berbicara tentang kasih, hanya sayangnya itu tak lebih dari ucapan bibir saja. Kita berkata bahwa diri kita hidup dalam kasih, tapi sebenarnya itu tak lebih dari sebuah kemunafikan karena pada hakekatnya kita sama sekali tak pernah mempraktekkan kasih dalam kehidupan nyata. Jika kita benar-benar hidup dalam kasih, maka seharusnya kita tahu bahwa ada tiga makna kasih yang perlu kita lakukan, sebagaimana yang telah dilakukan Hosea untuk menggambarkan perzinahan rohani yang terjadi dalam kehidupan bangsa Israel.
Satu, kasih memerlukan ketaatan.
Bukan hal yang mudah bagi Hosea untuk mengawini seorang perempuan nakal macam Gomer. Apa kata orang nanti ketika melihat sang nabi dan sang pelacur duduk dalam satu pelaminan? Tapi karena ketaatannya kepada perintah Allah, Hosea tetap juga melakukannya. Kita boleh saja berkata panjang lebar bahwa kita mengasihi Tuhan, namun selama kita tidak hidup dalam ketaatan maka sebenarnya kasih kita hanya sebatas di bibir saja.
Dua, kasih memerlukan pengorbanan.
Saya percaya bahwa Hosea akan tersenyum lebar ketika mendengar Tuhan memerintahkannya untuk mengawini seorang wanita cantik, kaya, dan memiliki reputasi yang baik bahkan terhormat. Tapi Tuhan tak memberi perintah seperti itu, sebaliknya ia harus mengawini seorang pelacur. Tentu dalam hal ini diperlukan pengorbanan tersendiri bagi Hosea. Kasih Hosea diwujudkan dalam tindakan yang nyata, yaitu pengorbanan, baik harga dirinya, reputasinya, kehidupan dan masa depannya.
Ketiga, kasih memerlukan kesabaran.
Gomer bukanlah wanita baik-baik. Hosea mengangkat derajatnya dari seorang perempuan pelacur menjadi perempuan terhormat. Tapi toh akhirnya Gomer tetap saja lari dari Hosea dan pergi ke pelukan orang lain. Apa perintah Tuhan kepada Hosea tentang hal ini? Hosea disuruh pergi, mencari dan mencintai lagi perempuan pelacur yang tak setia itu. Kasih memang membutuhkan kesabaran. Kiranya kisah unik Hosea ini menjadi perenungan tersendiri bagi kita, sekaligus menjadi batu uji, apakah kita benar-benar sudah hidup dalam kasih?
Lebih sedikit berbicara tentang kasih, lebih banyak menunjukkan kasih dalam tindakan nyata.

0 komentar :

Poskan Komentar