08 Maret, 2013



Bacaan: Lukas 7:36-50

Lalu membasahi kakiNya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya ...- Lukas 7:38



Jika seseorang menjadi semakin terkenal, biasanya dia akan berubah. Dulunya bergaul dengan semua orang, tapi sekarang ia akan memilih-milih pergaulan, tentu saja dia akan memilih pergaulan yang levelnya sama dengan dirinya. Itu sebabnya banyak orang terkenal jadi sombong, tepat peribahasa yang berkata, kacang lupa kulitnya.
Namun sikap beda ditunjukan oleh Tuhan Yesus. Pada masaNya, Tuhan Yesus boleh dibilang tokoh yang sangat fenomenal dan jadi selebritis pada saat itu. Yesus jadi sorotan publik. Ribuan orang mengikut Yesus kemanapun Ia pergi. Saat Yesus hendak masuk ke sebuah kota, berita tentang kedatanganNya sudah lebih dulu tersebar di seluruh kota itu sehingga banyak orang ingin segera berjumpa denganNya. Sedikit joke, seandainya jaman dulu sudah ada tustel tentu banyak orang ingin minta foto dengan Tuhan Yesus, atau sekedar minta tanda tanganNya.
Meski Yesus menjadi pusat perhatian di seluruh Yudea pada waktu itu, sikapNya tak berubah. Ia menaruh perhatian pada nelayan-nelayan sederhana dan menjadikan mereka murid-muridNya. Ia bercakap-cakap dengan perempuan Samaria (Samaria adalah musuh Yahudi) yang gonta-ganti suami dan dicap sebagai perempuan nakal. Ia makan dengan pemungut cukai macam Zakheus. Bahkan Ia membiarkan kakiNya diurapi oleh perempuan pelacur! Yesus tidak malu bergaul dengan mereka. Ia juga tidak merasa gengsi, dan seolah tidak ambil pusing dengan apa yang dikatakan publik mengenai diriNya. Inilah teladan kerendahan hati yang sangat luar biasa!
Jujur saja, kita seringkali membeda-bedakan orang dalam pergaulan. Merendahkan orang-orang yang dibawah kita, dan menjilat orang-orang yang di atas kita. Tak heran kalau di gereja juga ada semacam kasta. Kelompok orang berduit bersosialisasi dengan kelompok berduit. Kelas menengah bergaul dengan kelas menengah. Dan yang tak punya kelas akan diabaikan begitu saja. Yesus sudah memberikan teladan kerendahan hati yang luar biasa bagi kita. Kiranya itu cukup untuk mengubah cara kita melihat seseorang. Tidak lagi membeda-bedakan orang namun menghargai semua orang karena mereka yang paling sederhana sekalipun ternyata punya nilai. Jika saja kita masih tetap membeda-bedakan orang menurut status sosialnya, maafkan kalau saya berkata, “Selamat, Anda lebih hebat dari Yesus!”

Ketika Anda berjumpa dengan orang-orang yang status sosialnya jauh berada di bawah Anda, perlakukan seolah-olah mereka orang yang sangat penting bagi Anda.

0 komentar :

Posting Komentar