23 April, 2013



Bacaan: Efesus 4:26-27

Janganlah matahari terbenam sebelum padam amarahmu.- Efesus 4:26


Amarah memang reaksi alamiah manusia yang sangat wajar. Hampir setiap orang pernah melepaskan energi yang disebut dengan kemarahan ini. Meski sangat manusiawi untuk marah, kita tahu bahwa seringkali amarah menimbulkan hal-hal yang destruktif (merusak), mengakibatkan hal-hal yang fatal bahkan menyebabkan serangkaian akibat yang menuntut penyesalan tanpa henti. Hanya karena amarah ada orang tua yang kemudian menghajar anaknya sampai anak itu meninggal. Hanya karena amarah beberapa orang menjadi mata gelap dan melakukan tindakan-tindakan bodoh. Bukankah saat emosi kita disulut kemarahan, kita juga melakukan hal-hal konyol yang seharusnya tak kita buat?
Belajar mengenai kemarahan, saya sangat tertarik dengan buku yang ditulis oleh David Augsburger dalam Be All That You Can Be. Ia menyarankan cara-cara berikut ini untuk “marah dengan baik”. Setiap orang haruslah menyadari bahwa marah itu penting, sah dan alamiah. Benar atau salahnya kemarahan itu tergantung cara kita meresponi suatu keadaan dan bagaimana cara kita mengungkapkannya. Beberapa nasihat penting yang bisa kita ambil adalah :
Marahlah, tetapi sadarilah bahwa Anda tidak akan pernah sedemikian mudah terancam selain ketika sedang marah. Penguasaan diri menurun, daya nalar
berkurang dan pengertian menghilang.
Marahlah, tetapi sadarilah bahwa amarah dengan segera akan menjadi kepahitan, berkembang menjadi dendam, benci, dengki bahkan tindakan kejam, jika
tidak dikendalikan oleh kasih.
Marahlah, tetapi hanya untuk kebaikan. Hanya amarah yang diwarnai kasih kepada sesama yang menginginkan apa yang benar bagi orang lain disertai
kasih ilahi merupakan amarah yang membangun.
Ungkapkan kemarahan Anda dengan cara baik dan alihkan dari keinginan mempertahankan diri menjadi belas kasihan kepada orang lain.
Jangan sampai hidup yang kita bangun dengan susah payah harus hancur dalam sekejap mata karena kemarahan yang tak terkendalikan. Kenakanlah kasih menjadi pengikat segala sesuatu termasuk menjadi pengikat kemarahan kita, sehingga kalaupun kita marah maka kita marah karena dasar kasih.
Syarat untuk marah : dilandasi kasih dan penguasaan diri.

0 komentar :

Posting Komentar