25 April, 2013



Bacaan: Hosea 1:1-9

Pergilah, kawinilah seorang perempuan sundal dan peranakkanlah anak-anak sundal ...- Hosea 1:2


Wedding Song mengalun lembut mengiringi langkah kedua mempelai di sebuah resepsi pernikahan. Semua tamu undangan menahan nafas dan tak mempercayai apa yang mereka lihat. Bagi mereka, ini pemandangan yang tak lazim. Seorang pemimpin rohani sekaliber Hosea berdampingan dengan pelacur murahan macam Gomer! Apa-apaan ini? Lelucon konyol yang sama sekali tak lucu. Semua mata memandang kedua mempelai ini dengan sinis. Mereka saling berbisik membicarakan Hosea yang tolol dan yang mungkin terkena sedikit gangguan syaraf. Keputusannya untuk menikahi pelacur murahan itu membuat reputasinya sebagai pemimpin rohani melorot drastis.
Di hadapan manusia, apa yang dilakukan Hosea terlihat begitu konyol. Mereka tidak bisa memahaminya. Bagimana mungkin bisa memahami perbuatan memalukan itu? Masakan seorang rohaniwan berdampingan dengan pelacur murahan? Namun di hadapan Tuhan Hosea sedang berdiri di atas ketaatan dan kebenaran. Ia menikahi Gomer karena diperintahkan Tuhan untuk memberi gambaran tentang ketidaksetiaan Israel dan Tuhan yang setia. Untuk bisa taat seperti yang dilakukan Hosea tentu bukan hal yang mudah, harga yang ia bayar sangatlah mahal! Itulah ketaatan yang bagi dunia dianggap kebodohan!
Bukankah kita dianggap bodoh ketika menolak amplop yang terulur di bawah meja? Bukankah kita dianggap bodoh ketika memilih untuk berbisnis dengan cara yang jujur? Bukankah kita dianggap kolot ketika menghindar dari wanita penghibur yang disediakan relasi bisnis kita? Bukankah kita dianggap fanatik ketika menjadi aktif di gereja? Bukankah kita dianggap bodoh ketika memberi sebagian milik kita untuk pekerjaan Tuhan? Di hadapan manusia, tindakan kita ini mungkin tidak bisa dipahami dan dianggap sebagai kebodohan, tetapi di hadapan Tuhan sebenarnya kita sedang berdiri di atas kebenaran dan ketaatan.
Beranikah kita berdiri dengan kepatuhan yang tak tergoyahkan sekalipun dunia mentertawakan kita? Apakah kita akan tetap taat sekalipun menjadi bahan cibiran? Ataukah kita lebih takut kalau ditertawakan manusia daripada menuruti perintah Tuhan? Jawaban kita akan mencerminkan siapa yang sebenarnya menjadi prioritas utama di dalam hidup kita.

Ketaatan yang tak tergoyahkan akan teruji, di saat dunia mentertawakan kita.

0 komentar :

Posting Komentar