20 April, 2013



Bacaan: Wahyu 2:1-7

... karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.- Wahyu 2:4


Tentu kita setuju bahwa hal yang baru merupakan sesuatu yang sangat mengasyikan. Saat awal mula belajar gitar, saya begitu kecanduan dengan gitar ini, sehingga tiada waktu senggang yang dilewatkan begitu saja tanpa belajar gitar. Namun sekarang, saat saya sudah bisa memainkan gitar, semangat yang menggebu-gebu itu semakin menyurut dan memainkan gitar tak lagi menyenangkan seperti ketika pertama kali belajar memainkannya. Hal yang sama juga terjadi saat saya belajar komputer untuk pertama kalinya. Mengetik dan membiarkan jari jemari menari-nari di atas keyboard adalah hal yang menyenangkan, sampai-sampai saya mengetik semua hal yang bisa diketik. Namun sekarang, setelah saya berkutat tiap hari di depan komputer untuk menulis, kegiatan mengetik tak menyenangkan seperti dulu. Bahkan kadangkala saya merasa letih dan bosan!
Awal mula kita jatuh cinta, perasaan menggebu mendorong kita untuk selalu ingin bertemu, kencan dan menghabiskan waktu bersama-sama, namun setelah kita masuk dalam bahtera rumah tangga, kadangkala perasaan kita yang menggebu juga surut dengan sendirinya dan semuanya menjadi begitu biasa.
Jika hal yang seperti ini terjadi dalam hubungan kita dengan Kristus, maka Alkitab menyebutnya dengan istilah kehilangan kasih yang mula-mula. Waktu pertama kali kita bertobat dan mengalami perjumpaan secara pribadi dengan Tuhan, bukankah kita begitu semangat dan haus akan hal-hal rohani? Kita berdoa tanpa henti, membaca Alkitab dengan penuh kehausan dan melakukan pelayanan dengan sukacita, namun sekarang apakah cinta mula-mula itu masih kita pertahankan dalam kehidupan rohani kita? Ataukah seiring waktu yang berjalan, kasih kita kepada Tuhan mulai surut dan terlihat begitu membosankan?
Belajar dari jemaat di Efesus, hal yang paling penting bukanlah sejauh mana kita bekerja keras dalam melayani Tuhan, atau sebesar apakah jerih payah dan ketekunan kita, atau seberat apa penderitaan kita karena Kristus. Hal-hal itu memang penting, tapi yang terpenting adalah apakah masih ada kasih mula-mula di dalam kehidupan rohani kita? Tanpa di dasari kasih yang mula-mula, maka semua hal yang kita lakukan bagi Tuhan menjadi nihil dan tak berarti. Perhatikan warning dari Tuhan ini : Ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh!

Apa yang kita bangun dengan susah payah menjadi tak berarti, jika tidak kita menjadikan kasih sebagai pondasinya.

0 komentar :

Posting Komentar