13 April, 2013



Bacaan: Markus 1:40-45

Maka tergeraklah hatiNya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tanganNya ...- Markus 1:41


Siapa yang mau peduli? Siapa mau peduli dengan sosok usia senja yang kesepian? Siapa mau peduli dengan bayi-bayi yang tidak dilahirkan? Setiap dua puluh detik, satu janin dikeluarkan dari rahim ibunya untuk dibuang dari kehidupan. Siapa mau peduli dengan mereka yang cacat? Daripada memberi sedikit cipratan belas kasihan, kita justru sibuk menggali apa dosa mereka sehingga kutuk dan kemalangan menimpa mereka. Siapa mau peduli dengan korban AIDS? Tubuh, atau lebih tepatnya tulang yang dibungkus kulit itu merintih lara sendiri. Siapa mau peduli dengan anak kecil yang tak pernah mengalami pelukan orang tuanya? Siapa mau peduli dengan pecandu alkohol? Pemakai narkotika? Preman, anak-anak jalanan atau komunitas yang terbuang? Waria atau kaum homoseks yang menyimpang dari kenormalan?
Getir dan pahitnya hidup membuat manusia menjadi apatis. Tak ada seorangpun peduli. Membiarkan mereka merintih nyeri dalam lara. Jangan salahkan pemerintah, mereka sudah terlalu sibuk rapat, membahas ini itu dan sibuk untuk mencari keuntungan sendiri-sendiri. Jangan salahkan gereja. Gereja punya kesibukan sendiri yang tak kalah pentingnya. Sebut saja rapat sinode, pembahasan program gereja jangka panjang dan jangka pendek, lagipula menerima kaum homoseks atau kelompok preman yang kacau bukankah bisa mencoreng nama baik gereja? Lalu kita mau salahkan siapa? Diri kita? Bukankah kesibukan dan beragam urusan telah menyita dan mengalihkan perhatian kita dari mereka? Siapa yang mau peduli?
Meski tak ada yang peduli, bukan berarti mereka sendiri. Masih ada satu pribadi yang peduli, Anda bisa memanggilnya Yesus. Bacalah autobiografi Yesus. Yesus menyentuh kulit mengoreng dan menjadikannya tahir. Yesus peduli dengan si kusta yang terasing. Yesus membiarkan dirinya diurapi perempuan berdosa, tanda penerimaan yang tulus kepada mereka yang dicap “sampah” oleh masyarakat. Zakheus memang tak ubahnya seperti preman pasar, tapi toh Yesus peduli terhadap keselamatan jiwanya. Someone care, Jesus care ... Marilah kita belajar dari kepedulian Yesus. Menjadi pengikut Kristus seharusnya membuat kita melakukan apa yang sudah dilakukan Yesus. Jika selama ini kita menjadi orang Kristen yang tidak peka dan apatis, mungkin kita tak lagi hidup dalam kasih. Kalau kasih memerintah hidup kita, kitapun akan peduli. Yesus peduli, kita juga peduli...

Someone care, Jesus care ...

0 komentar :

Posting Komentar