12 Mei, 2013



Bacaan: Yohanes 18:1-11

Lalu Simon Petrus, ... menghunus pedang itu, menetakkannya kepada hamba Imam Besar.- Yoh 18:10



Peledakan bom di London beberapa waktu yang lalu memperpanjang daftar peledakan bom bunuh diri. Ini adalah salah satu bentuk terorisme yang sangat efisien, sekaligus sangat mematikan. Tak heran kalau sepanjang tahun 2000 - 2003 terdapat lebih dari 300 serangan bunuh diri di 17 negara! Para pejuang Macan Tamil (Sri Langka), perjuangan rakyat Palestina melawan Israel, Hezbollah (Irak), Al Qaeda dan beberapa kelompok garis keras yang lain juga melakukan terorisme bunuh diri. Motif mereka pun bermacam-macam, namun lebih banyak karena alasan agama. Itulah yang saya sebut fanatisme berlebihan.
“Orang normal” tentu akan berpikir berpuluh-puluh kali untuk melakukan bom bunuh diri. Itu sebabnya mereka yang berani melakukannya tentu sudah mengalami cuci otak lebih dulu sehingga memiliki fanatisme yang sangat berlebihan terhadap keyakinan yang dianutnya. Kebanyakan dari antara mereka berpikir bahwa ini adalah salah satu cara memperoleh pahala terbesar, yaitu ketika mereka berani mati berkorban demi agamanya.
Bersyukur bahwa di dalam kekristenan tidak pernah diajarkan seperti itu. Yesus tidak pernah mengajarkan agar kita berani membela ajaranNya habis-habisan, bahkan kalau perlu mengorbankan diri untuk hal itu. Yesus tak pernah ajarkan fanatisme yang keliru. Sebaliknya Yesus justru mengajarkan kasih. Jika pipi kiri kita ditampar justru kita harus memberikan pipi kanan. Ini bukan omong kosong belaka. Peristiwa Getsemani cukup memberikan kita teladan kasih. Saat Petrus membela gurunya dengan memenggal telinga Malkhus, salah seorang yang menangkap Yesus, bukankah Yesus bisa saja memberi tepukan di pundak Petrus dan memujinya sebagai murid yang pemberani? Tapi Yesus justru menegur Petrus dan menyambungkan kembali telinga musuh yang sudah putus.
Jangan terjebak dengan fanatisme yang berlebihan sehingga kita harus repot-repot membela Tuhan. Masakan Tuhan masih perlu dibela? Bukankah Ia Raja di atas segala raja? Bukankah Ia maha kuasa? Apakah Ia begitu lemah sehingga membutuhkan pembelaan kita? Sangat kelewatan kalau kita bersikap sok heroik dan melakukan aksi bunuh diri demi membela Tuhan dan ajaranNya. Kekerasan bukan jawaban, kasih adalah solusinya.

Tuliskanlah respon Anda, “Apa yang akan Anda lakukan seandainya ada orang yang mengejek

0 komentar :

Posting Komentar