15 Juni, 2013



Bacaan: Matius 23:1-36

Celakalah kamu, ... orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik.- Matius 23:27



Ini termasuk penyakit yang cukup kronis di area kekristenan. Seperti wabah yang menjangkiti banyak orang. Tak hanya itu, penyakit ini sangat menular. Ironisnya, penyakit ini tak disadari sampai kemudian timbul perpecahan gereja di sana-sini. Penyakit ini disebut superioritas rohani, merasa lebih baik dan lebih rohani daripada yang lain. Indikasinya, berkata berlebihan tentang diri sendiri, tatapannya selalu sinis dan meremehkan orang lain, sikapnya penuh dengan kecongkakan!
Jika saja si superioritas rohani ini diberi kesempatan untuk menceritakan siapa dirinya, ia akan berkata seperti ini :
  • Aku punya karunia-karunia Roh, engkau tidak ...
  • Akulah yang merintis gereja ini sampai menjadi besar seperti ini, engkau tidak..
  • Denominasiku yang paling baik, denominasimu sama sekali tak bermerk.
  • Gerejaku lebih baik, lebih besar, lebih nyaman daripada gerejamu.
  • Aku berdoa lima jam satu hari, engkau?
  • Alkitab ini sudah kubaca sepuluh kali. Berapa kali engkau menyelesaikannya?
  • Jika Tuhan ingin menyampaikan sesuatu, Ia selalu menghubungi saya dan melalui saya. Tentu engkau tak pernah dihubungi Tuhan bukan?
Meski kehidupannya terlihat begitu rohani, tapi jika sudah terjangkit dengan penyakit ini maka sebenarnya ia sedang berada di titik paling rawan dalam hidupnya. Yang pasti ia sudah terjebak dalam kesombongan rohani dan setiap langkah kesombongan akan selalu berujung pada kehancuran. Orang-orang yang sombong secara rohani dan merasa lebih baik daripada orang lain akan susah menerima kritik seandainya saja ia berbuat kesalahan. Ia selalu menjadi orang Kristen yang paling benar dan orang lain lah yang salah. Saat ada yang salah dengan kekristenannya, ia menjadi terlalu gengsi untuk mengakuinya. Mencari seribu satu dalih untuk melakukan pembenaran diri dan kalau perlu menjadikan orang lain sebagai kambing hitam. Bukankah dengan demikian reputasi rohaninya tetap terjaga?
Jika kehidupan rohani kita seperti ini, apakah yang membedakan kita dengan orang Farisi? Kita menjadi orang begitu munafik! Renungan hari ini mungkin begitu menegur kita. Sikap apa yang akan kita tunjukkan? Apakah kita akan bertobat, ataukah sebaliknya kita masih saja melakukan pembenaran diri?

0 komentar :

Posting Komentar