07 April, 2014


Bacaan: Matius 18:21-35

Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.- Matius 18:22


Beberapa waktu yang lalu, Mitchell Johnson dibebaskan dari penjara Tennesse. Hal yang membuat Johnson harus mendekam di penjara adalah tindakan konyolnya pada 24 Maret 1998 silam. Saat itu usianya masih 13 tahun, dan bersama temannya, Andrew Golden, ia mencuri senapan berburu milik kakeknya. Lalu membawa senapan itu di Sekolah Menengah Westside. Selanjutnya ia menyalakan alarm kebakaran sehingga orang-orang berlarian ke luar. Saat itulah Johnson menembakkan senjatanya di tengah-tengah kepanikan orang. Akibatnya seorang guru dan empat murid meninggal dan 10 siswa lain terluka parah!
Hebatnya, setelah menyelesaikan hukuman selama 7 tahun di penjara, sepulangnya dari penjara ia bercita-cita ingin menjadi pendeta! Lalu apa komentar orang-orang ketika mendengar niatnya itu? Mereka hanya mencibir dengan sinis dan menganggap bahwa cita-citanya itu bualan belaka. Mereka belum bisa melupakan tragedi dan kejadian mengerikan 7 tahun silam akibat kegilaan Johnson. Pendek kata, tak ada kesempatan kedua bagi Johnson untuk mengubah hidupnya.
Bagaimana seandainya kita termasuk orang-orang yang melihat sendiri betapa sadisnya pembunuhan yang dilakukan Johnson tujuh tahun lalu? Apakah kita bisa mengampuni, melupakannya dan memberi kesempatan bagi Johnson untuk menunjukkan perubahan dalam hidupnya? Ataukah sebaliknya kita menghakiminya dan berkata bahwa seorang pembunuh akan terus jadi pembunuh dan tak mungkin akan jadi pendeta.
Kita pernah dilukai oleh seseorang. Kita pernah dikecewakannya. Kita pernah menelan pil pahit yang namanya pengkhianatan. Kita pernah jadi korban penipuannya. Lalu apa reaksi kita terhadap orang yang sudah menyakitkan hati kita itu? Akankah kita mengampuni atau sebaliknya kita menutup kemungkinannya untuk berubah? Bukankah Yesus mengajarkan bahwa mengampuni itu tak hanya terbatas satu dua kali saja? Bahkan tujuh puluh kali tujuh kali pun kita harus melakukannya? Mengapa kita tidak memilih untuk mengampuni, melupakan dan memberikan kesempatan kedua kepadanya untuk berubah? Bukankah Tuhan juga melakukan hal yang sama kepada kita? Sudah seharusnya kita melakukan hal ini kepada orang lain, termasuk kepada musuh kita sekalipun.
Berilah maaf kepada orang yang telah menyakiti hidup kita pada hari ini juga.

0 komentar :

Posting Komentar