08 April, 2014


Bacaan: Matius 23:1-36

di sebelah luar kamu tampaknya benar ..., tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan... - Mat 23:28


Manusia dengan kepribadian ganda, atau yang dalam bahasa populer disebut schizofrenia sudah sering kita dengar. Tapi bagaimana dengan manusia dengan kepribadian majemuk? Barusan terbit buku dengan judul The Minds of Billy Milligan, kisah nyata dari seorang Billy yang terperangkap dalam 1 jiwa dengan 23 kepribadian! Kadangkala ia bisa menjadi lelaki dewasa, tapi kadangkala kepribadiannya bisa berubah menjadi seorang wanita, bahkan bisa memiliki kepribadian seperti bocah usia 3 tahun. Dengan kepribadian majemuk itu ia menjadi seorang lesbian, pemerkosa, pelaku kriminal dan melakukan banyak kebiasaan menyimpang lainnya.
Meski kita bukan pengidap penyakit kejiwaan ini, sejujurnya kita memiliki banyak kepribadian, yang satu sama lain bahkan saling bertentangan. Dalam bahasa rohani, kepribadian majemuk ini bisa diterjemahkan dalam satu kata saja, kemunafikan! Berkumpul dengan para rohaniwan atau di lingkungan gereja, maka kepribadian kita menjadi rohani. Namun di pihak lain kalau kita berkumpul dengan orang dunia, maka kepribadian kita langsung berubah seratus delapan puluh derajat, sehingga kita benar-benar mirip dengan orang dunia.
Di hadapan isteri kita bisa menjadi pribadi yang setia, tapi di balik itu kita menyimpan perselingkuhan. Di hadapan anak-anak kita bisa menjadi orang tua yang baik, tapi tanpa sepengatahuan mereka sebenarnya juga bobrok. Di hadapan atasan kita bisa bermanis muka, tapi di belakangnya kita sudah merencanakan tusukan demi tusukan. Mulut kita berkata haleluya, tapi hati kita mengumpat. Sungguh kepribadian kita yang sebenarnya susah ditebak, karena kita memiliki banyak topeng kepribadian!
Tahukah Anda bahwa kerohanian dengan kepribadian majemuk seperti ini sangat dibenci Tuhan? Tuhan ingin kita jujur dan apa adanya. Kalau memang kita bobrok, lebih baik kita terlihat bobrok. Bukankah pertobatan akan lebih mudah dilakukan orang yang jujur dengan dirinya sendiri? Menutup dosa dan kelemahan diri dengan banyak topeng hanya akan membuat kita selalu mengeraskan hati dan tak pernah mengalami pertobatan. Apakah kita memiki kepribadian yang utuh (integritas) ataukah sebaliknya kita memiliki kepribadian majemuk?
Beranikah Anda mengakui semua dosa dengan jujur dan membuang topeng kemunafikan?

0 komentar :

Posting Komentar